Satukota.com – Seorang traveller asal Sabah, Malaysia, Raja Jerome, dibuat kaget saat mengetahui adanya perbedaan tarif antara pengunjung biasa dan pembuat konten ketika berwisata ke Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Jerome diketahui sedang menjalani solo trip selama sekitar satu bulan di Indonesia dan membagikan perjalanan tersebut melalui akun TikTok miliknya, raja_jerome.
Peristiwa itu kemudian ramai diperbincangkan setelah Jerome mengunggah rekaman pengalamannya ketika hendak membeli tiket masuk objek wisata tersebut.
Dalam rekaman yang dibagikannya, Jerome awalnya hendak masuk sebagai wisatawan biasa dengan tarif kunjungan siang sebesar Rp15 ribu untuk pengunjung lokal dan Rp25 ribu bagi wisatawan mancanegara.
Situasi berubah setelah petugas loket mengetahui bahwa Jerome memiliki akun TikTok dengan sekitar 27 ribu pengikut.
Petugas kemudian menjelaskan bahwa aktivitas membuat vlog memiliki ketentuan tarif berbeda dari kunjungan biasa, sementara aktivitas mengambil foto atau video singkat untuk kebutuhan pribadi seperti Instagram Story masih diperbolehkan menggunakan tiket reguler.
Untuk pembuatan konten vlog, Jerome disebut harus membayar biaya tambahan atau paket khusus sebesar Rp600 ribu.
Jerome tampak terkejut mendengar nominal tersebut dan akhirnya memilih tidak mengambil paket pembuatan vlog dengan tarif Rp600 ribu.
Ia tetap memasuki lokasi sebagai pengunjung biasa, sedangkan pengalamannya mengenai perbedaan tarif tersebut justru menjadi bagian dari konten perjalanan yang dibagikannya kepada pengikut di media sosial.
Peristiwa ini kemudian memunculkan perdebatan di kalangan warganet mengenai batas antara kunjungan wisata biasa dan aktivitas komersial pembuat konten.
Perbedaan tarif untuk produksi konten pada dasarnya dapat dipahami apabila suatu destinasi memiliki aturan khusus terkait penggunaan lokasi untuk kepentingan promosi, produksi, atau komersial.
Namun, transparansi mengenai ketentuan, cakupan penggunaan, serta alasan penetapan biaya menjadi hal penting agar wisatawan tidak merasa mendapatkan informasi harga yang berbeda secara mendadak.
Kasus Raja Jerome pun menjadi contoh bahwa perkembangan media sosial kini turut memengaruhi cara pengelola destinasi wisata menetapkan aturan bagi pengunjung yang datang sekaligus membuat konten.***






