Satukota.com – Penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan masih menjadi praktik ilegal yang marak terjadi di Indonesia.
Konsumen sering kali tidak menyadari bahwa makanan yang mereka konsumsi mengandung formalin, zat kimia berbahaya yang seharusnya tidak digunakan dalam pangan.
Dampak konsumsi formalin terhadap kesehatan sangat serius, mulai dari gangguan pencernaan hingga risiko kanker.
Formalin, atau formaldehida menurut pafidara.org adalah senyawa kimia yang umumnya digunakan untuk mengawetkan mayat dan sebagai bahan dalam industri.
Namun, praktik ilegal penggunaan formalin sebagai pengawet makanan masih ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.
Makanan seperti tahu, mi basah, ikan asin, dan berbagai produk olahan lainnya sering kali menjadi sasaran penggunaan formalin oleh oknum pedagang nakal.
Konsumsi makanan yang mengandung formalin dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.
Dalam jangka pendek, gejala yang muncul antara lain mual, muntah, nyeri perut, dan diare.
Paparan formalin juga dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Dalam jangka panjang, konsumsi formalin dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh seperti hati, ginjal, dan sistem saraf.
Bahkan, formalin dikategorikan sebagai zat karsinogenik yang dapat meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker mulut dan tenggorokan.
Anak-anak dan wanita hamil merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif formalin.
Paparan formalin pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Sementara pada wanita hamil, formalin dapat berdampak buruk pada janin yang sedang berkembang di dalam kandungan.
Penggunaan formalin dalam makanan tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak konsumen untuk mendapatkan makanan yang aman dan sehat.
Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan berbagai upaya untuk memberantas penggunaan formalin dalam makanan, termasuk melakukan razia dan pengawasan ketat terhadap produk pangan.
Namun, peran serta masyarakat juga sangat penting dalam mengatasi masalah ini.
Konsumen harus lebih waspada dan teliti dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.
Beberapa ciri makanan yang mengandung formalin antara lain tekstur yang terlalu kenyal, warna yang terlalu cerah, dan tidak mudah basi meskipun disimpan dalam waktu lama.
Selain itu, mencuci bahan makanan dengan air mengalir dan memasaknya dengan suhu yang cukup dapat membantu mengurangi risiko paparan formalin.
Pendidikan dan sosialisasi mengenai bahaya formalin juga perlu ditingkatkan, terutama di kalangan pedagang dan produsen makanan.
Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan mereka tidak lagi menggunakan formalin sebagai pengawet makanan.
Masyarakat juga dapat berperan aktif dengan melaporkan jika menemukan adanya indikasi penggunaan formalin dalam makanan kepada pihak berwenang.
Kesehatan adalah aset berharga yang harus dijaga. Dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap bahaya formalin, kita dapat melindungi diri dan keluarga dari ancaman kesehatan yang serius.***






