IDI Purbalingga menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor. Organisasi profesi kesehatan, seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), turut serta dalam mengembangkan pendekatan berbasis komunitas.
BKKBN sebagai lembaga yang menangani program keluarga berencana juga berperan penting dalam memantau status gizi ibu dan anak di setiap keluarga. Mereka memperkenalkan program inovatif, seperti aplikasi ELSIMIL, untuk mendeteksi risiko stunting secara dini.
Komitmen ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun berbagai program telah dilaksanakan, tantangan dalam pencegahan stunting masih ada. Keterbatasan anggaran dan kurangnya tenaga kesehatan menjadi kendala utama.
Kendala lain adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang dan perilaku hidup sehat. Hal ini sering kali diperparah oleh mitos dan kebiasaan yang tidak mendukung kesehatan anak.
Namun, dengan pendekatan yang terarah dan konsisten, IDI Purbalingga optimis angka stunting di wilayah ini dapat terus ditekan.
Harapan ke Depan
IDI Purbalingga berharap seluruh pihak terus mendukung program pencegahan stunting dengan komitmen tinggi. Penurunan prevalensi stunting bukan hanya meningkatkan kualitas hidup anak, tetapi juga membangun generasi yang lebih sehat dan produktif di masa depan.
Upaya ini membutuhkan dukungan dari semua sektor, baik pemerintah, organisasi kesehatan, maupun masyarakat. Dengan langkah bersama, target Indonesia bebas stunting pada 2045 bukanlah hal yang mustahil.
(VZ/RS)






