Studi tersebut juga menemukan bahwa aktivitas fisik teratur dapat meningkatkan kualitas hidup lansia dengan osteoporosis.
IDI Banjarnegara menyarankan agar lansia berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai program olahraga.
Dokter dapat membantu menentukan jenis olahraga yang sesuai berdasarkan kondisi kesehatan dan tingkat keparahan osteoporosis.
Selain itu, pemanasan sebelum berolahraga dan pendinginan setelahnya sangat penting untuk mencegah cedera.
Menggunakan alas kaki yang tepat dan memastikan lingkungan yang aman juga menjadi faktor penting dalam berolahraga.
Di Indonesia, gerakan senam osteoporosis semakin populer dan sering dianjurkan oleh komunitas kesehatan.
Senam ini biasanya melibatkan gerakan-gerakan sederhana yang dapat dilakukan di rumah dengan bimbingan instruktur berpengalaman.
Selain olahraga, lansia dengan osteoporosis juga disarankan untuk menjaga asupan nutrisi yang mencukupi.
Asupan kalsium dan vitamin D sangat penting untuk mendukung kesehatan tulang.
Makanan seperti susu rendah lemak, yogurt, ikan salmon, dan sayuran hijau dapat menjadi pilihan.
Beberapa lansia mungkin memerlukan suplemen kalsium atau vitamin D, tetapi penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter.
Hidrasi juga memainkan peran penting dalam mendukung fungsi tubuh selama aktivitas fisik.
Lansia disarankan untuk minum air secara teratur, terutama saat berolahraga, untuk mencegah dehidrasi.
Selain itu, dukungan keluarga dan komunitas sangat penting bagi lansia untuk tetap termotivasi menjalani gaya hidup aktif.
Keluarga dapat membantu lansia dengan osteoporosis untuk memilih jenis olahraga yang tepat dan menyediakan lingkungan yang aman.
(VZ/RS)






